Rabu, 30 November 2016

Sopir Truck Pilih Menginap Di Perbatasan Ponorogo-Trenggalek Daripada Lewat Jalur Alternatif


Berita Longsor Ponorogo - Langit cerah di perbatasan Trenggalek-Ponorogo, Rabu (30/11/2016).  Jalanan tersebut sangat lengang.

Di depan sebuah warung makan, Yanto, 50, dan Jumadi, 47 warga Campurdarat Kabupaten Tulungagung itu duduk aantai sambil mengobrol. Dari nada bicara yang cukup keras tidak ada tansa-tanda dua sopir kelelahan.

Namun, kantong mata Yanto menghitam tidak bisa menipu. "Capek  juga menunggu jalur dibuka," katanya membuka obrolan kepada beritajatim.com.

Hati merupakan hari ketiga Yanto bersama Jumadi bertahan di Nglinggis. Dia sudah tiba di Nglinggis sejak Minggu (27/11/2016) malam lalu. Yanto bercerita, dia dan Jumadi sebenarnya hendak pulang ke Tulungagung. Keduanya usai mengirim material pasir begitu jauh, ke Sumedang, Jawa Barat.

Niatan segera beristirahat di rumah bersama keluarga usai perjalanan panjang ke Jawa Barat pun tak bisa segera direalisasikan. Karena di Nglinggis. Longsoran memutus akses.

Tapi, dia tidak sendiri. Lebih dari 20 truk parkir di sepanjang jalan, mulai dari gapura perbatasan Ponorogo-Trenggalek hingga di depan titik longsoran.

"Ada yang baru tiba Senin, ada yang baru tiba hari ini. Kebanyakan dari Jateng atau Jabar,’’ katanya.

Dampak longsor yang menutup jalur Ponorogo-Trenggalek dirasakan semua orang. Termasuk para sopir truk. Banyak truk yang diparkir di sekitar material longsor, menanti jalur dibuka. Di antara mereka, ada yang menunggu rampungnya evakuasi.

Yanto tahu ada alternatif jalan melewati longsoran di Nglinggis. Namun, dia dan kebanyakan sopir lainnya memilih memarkir truk mereka karena beberapa alasan. Pertama, medan alternatif terlalu berat. Jalur dari Tempuran, Sawoo menuju Karangan, Trenggalek dinilai sulit untuk truk.

"Medannya sulit mbak. Jadi mending bertahan saja. Daripada kenapa-kenapa," tambahnya.

Sementara, jika harus memutar melalui Nganjuk, menurut Yanto, jalannya juga sama-sama rusak. Pasalnya dari Nganjuk ke Kediri dan Tulungagung jalannya sangat rusak.

Selain itu alasan lain yang mendasari Yanto enggan memutar balik truknya. Uang yang dia bawa dari Sumedang sudah menipis.

Jika harus memutar lewat Nganjuk, biaya bahan bakar jelas lebih banyak. Yanto lebih memilih menanti jalur Ponorogo-Trenggalek dibuka.

Dengan uang yang menipis, bertahan di truk menanti jalur dibuka bukan perkara mudah bagi Yanto dan Jumadi. Jatah uang rokok digunakan makan di warung. Menu makannya pun ala kadarnya.

Cukup nasi dan juga sayur. Yanto dan Jumadi mengaku tidak masalah dengan menu yang penting perut terisi.

"Tidurnya di truk, atau di atas bangku warung ini. Apalagi sering turun hujan" jelasnya.[ted/berita jatim]

0 komentar

Posting Komentar

close