Sabtu, 17 Desember 2016

Evakuasi Warga Sipil Serta Korban Luka Allepo Dihentikan


Berita Internasional, Damaskus - Proses evakuasi warga sipil dan korban luka dari Aleppo, Suriah terhenti tiba-tiba. Relawan kemanusiaan beserta kendaraan mereka diperintahkan pergi dari Aleppo bagian timur tanpa penjelasan.

Disampaikan saksi mata di lapangan kepada Reuters, Jumat (16/12/2016), sedikitnya empat suara ledakan terdengar di lokasi yang menjadi titik keberangkatan bus-bus yang mengevakuasi warga, sebelum proses evakuasi dilaporkan terhenti pada Jumat (16/12) pagi waktu setempat.

Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Suriah, Elizabeth Hoff, memberikan penjelasan soal terhentinya proses evakuasi di Aleppo bagian timur ini.

Hoff berbicara kepada konferensi pers di Jenewa, Swiss dari sebuah lokasi di Aleppo bagian barat.

"ICRC (Komisi Palang Merah Internasional) dan SARC (Bulan Sabit Merah Arab Suriah) dan WHO diminta untuk meninggalkan area bersama ambulans dan bus, tidak ada alasan yang disampaikan. Saya menduga pesan (menghentikan evakuasi) datang dari Rusia yang memantau area itu," terang Hoff.

"Hal yang paling mengkhawatirkan adalah masih ada sejumlah besar wanita dan bayi, serta anak-anak di bawah usia 5 tahun yang terjebak di dalam Aleppo yang dikepung, yang perlu diselamatkan. Sekarang dengan operasi (evakuasi) terhenti, warga terpaksa kembali ke rumah-rumah mereka," sebut Hoff, sembari menyatakan 9 stafnya yang ada di lokasi tidak bisa berkomunikasi dengan otoritas Suriah.

Tercatat hingga Jumat (16/12) pagi, pukul 07.00 waktu setempat, ada sekitar 194 pasien yang dievakuasi yang tiba di delapan rumah sakit yang tersebar di wilayah Aleppo bagian barat, Idlib dan Turki.

Para korban luka ini mengalami kerusakan otak dan mata, juga berbagai penyakit kronis termasuk diabetes.

Menanggapi situasi ini, Direktur Regional ICRC untuk Timur Tengah dan Timur Dekat, Robert Mardini menyerukan semua pihak untuk segera melanjutkan proses evakuasi.

"Sangat disesalkan operasi terhenti sementara. Kami mendorong seluruh pihak untuk menjamin evakuasi bisa dilanjutkan kembali dan dilakukan dalam kondisi yang tepat," imbau Mardini via akun Twitter-nya.

Dalam keterangan terpisah, seperti dilansir AFP, seorang sumber keamanan pemerintah Suriah menyebut evakuasi terhenti karena kelompok pemberontak melanggar kesepakatan yang dicapai Rusia dan Turki sebelumnya.

"Operasi evakuasi terhenti karena militan gagal menghormati syarat kesepakatan," sebut sumber keamanan itu kepada AFP.

"Kelompok teroris (merujuk pada pemberontak) melanggar kesepakatan dan berusaha menyelundupkan persenjataan berat serta sandera dari Aleppo bagian timur," timpal laporan televisi nasional Suriah.

Versi berbeda disampaikan kelompok petempur oposisi yang menuding pemerintah Suriah menghentikan evakuasi demi mengamankan evakuasi dua desa Syiah di Idlib, yang dikuasai pemberontak.

"Rezim (Suriah) dan milisinya... menghentikan operasi evakuasi dalam upaya melibatkan Fuaa dan Kafraya," tutur Yasser al-Youssef dari kelompok pemberontak Nureddin al-Zinki.

Fuaa dan Kafraya merupakan desa-desa Syiah di Idlib yang dikuasai pemberontak sejak tahun 2015.

Rezim Suriah dan sekutunya Iran dilaporkan menambahkan syarat evakuasi warga dua desa itu dalam kesepakatan awal untuk mengevakuasi Aleppo bagian timur.

Secara terpisah, organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights menyebut penghentian evakuasi terkait dengan dua desa Syiah itu. Observatory bahkan melaporkan, pasukan propemerintah Suriah memblokir jalur evakuasi keluar Aleppo yang sebelumnya digunakan rombongan awal. [detik]

0 komentar

Posting Komentar

close