Kamis, 15 Desember 2016

Tidak Sukses Jadi Petani Di Sini, Kenapa Nggak Jadi "Buruh Matun" Di Jepang


Berita TKI - Petani Indonesia adalah nyawa dari kehidupan negara. Kalo nggak percaya coba aja petani di Indonesia mogok melakukan aktivitasnya selama 1 musim.

Kita pasti kelabakan nggak ada bahan makanan.

Petani kita justru banyak dimatikan dengan kebijakan pemerintah sendiri. Begal dan mafia pupuk merajalela serta segala persoalan lainnya.

Buruh matun itu hanya sekedar kiasan, intinya adalah sektor pertanian di Jepang membutuhkan TKI. 

Kebijakan baru yang diberlakukan adalah upah TKI yang jadi petani di sana disetarakan dengan upah petani lokal.

Ketua Divisi Advokasi Aliansi Petani Indonesia (API), Ferry Widodo, mengatakan setelah tenaga kerja buruh tani asal Indonesia dalam lima tahun terakhir banyak yang menyerbu perkebunan sawit di Malaysia, tidak lama lagi petani Indonesia pasti juga akan memenuhi permintaan dari pertanian di Jepang.

“Apalagi dengan gaji yang disetarakan dengan pendapatan petani di Jepang, pasti akan banyak tenaga kerja Indonesia yang mengalir ke sana,” ujar Ferry ketika dihubungi, Rabu (14/12).

Sektor pertanian di negara lain jelas lebih menguntungkan daripada di negeri sendiri.

Kabarnya Jepang akan memperbolehkan tenaga kerja asing terlatih untuk dipekerjakan di sektor agrikultur terutama yang memiliki nilai ekonomis untuk mengisi kekurangan pekerja di sektor pertanian. 

Pada 2015, pekerja asal Jepang yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 2,10 juta orang dan 63,5 persen telah berusia 65 tahun atau lebih.

Minat jadi buruh matun di Jepang?

Kalau minat ya kita harus memenuhi kriteria kecakapan seperti telah menempuh studi pertanian di level universitas di negara asal dan terampil berbahasa Jepang.

0 komentar

Posting Komentar

close