Selasa, 13 Desember 2016

Gagal Jualan Pentol, Warga NTT Dihajar Warga Sooko Mojokerto


Berita Mojokerto - Reha Piambudu (27) warga Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) nyaris tewas dihajar massa, Senin (12/12/2016).

Pria yang sehari-hari berjualan pentol ini, gagal melakukan aksi penjambretan di Jalan Raya Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto setelah ditipuk sandal korbannya.

Saat itu, Erni Suciati, warga Perum Kharisma Griya Asri, Desa Brangkal yang mengendarai motor dipepet korban usai membeli makan.

Pelaku yang juga mengendarai motor nopol S 6583 NO ini mempepet korban dari belakang. Pelaku yang sudah membuntuti korban ini, kemudian menarik kalung seberat 5 gram milik korban.

Akibat tarikan pelaku, korban pun terjatuh dari motornya. Namun korban justru mengambil sandal dan melempar ke arah pelaku. Sandal korban mengenai kepala pelaku dan korban pun meneriaki maling.

Karena tipukan korban, motor pelaku oleg dan menabrak pohon mangga yang ada di kiri jalan.

Pelaku terjatuh dari motor dan warga yang mendengar teriak korban langsung menghampiri pelaku dan menghajar hingga nyaris tewas.

Beruntung anggota Polsek Sooko cepat datang ke lokasi setelah perangkat desa melaporkan kejadian tersebut. Akibat amukan warga, pelaku mengalami terluka parah di bagian kepala.

Petugas langsung dievakuasi ke UGD Puskesmas Sooko untuk mendapatkan perawatan. Usai mendapatkan perawatan di UGD Puskesmas Sooko, pelaku yang baru menjadi bapak ini dibawa ke Polsek Sooko untuk dimintai keterangan petugas.

Kepada petugas, pelaku mengaku terpaksa menjabret karena desakan ekonomi. "Pendapatan saya hasil jualan pentol tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Saya terpaksa melakukannya karena terpaksa. Anak saya baru lahir, saya butuh uang untuk membelikan susu," ungkapnya.

Sementara itu, Kapolsek Sooko AKP Purnomo mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. "Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mengaku baru pertama kali menjabret. Alasannya, karena untuk membeli susu anaknya yang baru lahir," katanya.

Namun, lanjut Kapolsek, pihaknya masih mendalami keterangan pelaku. Akibat perbuatannya, pelaku terancam dijerat Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 7 tahun.[air/tin/beritajatim]

0 komentar

Posting Komentar

close