Sabtu, 22 April 2017

Miris!!! Suami Meninggal Puluhan Tahun Lalu, Nenek Asal Badegan Ponorogo Tinggal Dalam Rumah Amat Sangat Sederhana Bersama 3 Ekor Kambing


Berita Nenek Yang Hidup Serumah Dengan Tiga Ekor Kambing Di Badegan Ponorogo - Sosial media sedang santer membahas seorang nenek berusia senja yang hidup serumah dengan tiga ekor kambing di daerah Badegan Ponorogo.

Ternyata dia adalah Nenek Samitun (86) warga RT 001/RW 003, Dusun Brangkal, Desa Biting, Kecamatan Badegan, Ponorogo. Dia tinggal bersama tiga ekor kambing kesayangannya yang diberi nama Blegon, Keploh, dan Gembrot.

Nenek Samitun tinggal bersama tiga kambingnya di rumah yang sangat sederhana di belakang rumah keponakannya di Dusun Brangkal.

Rumah yang ditinggalinya berukuran 10 x 6 meter, dindingnya hanya berupa anyaman bambu yang telah usang dimakan usia. Tanpa pintu, hanya anyaman bambu digunakan untuk menutup jalan keluar rumah agar kambing tidak lari.

Rumah itu tanpa sekat tanpa perabotan sama sekali... tempat tidur, tempat masak, tempat makan dan lain-lain semua dilakukan Mbah Samitun bersama kambing-kambingnya.

Dua kambing dalam rumah, satu kambing dicencang diluar begitulah sehari-hari. Bila kita masuk kedalam rumah jangan berpikir tempat tinggal Mbah Samitun layaknya rumah.

Disana sini kotoran kambing dan ambunya (bau) dalam rumah tak seperti bau rumah yang sehari-hari kita tinggali.

Bila ingin beristirahat, Mbah Samitun tidur di ranjang ukuran 1,5 meter X 0,5 meter, tidak ada kasur hanya ditlemeki (pakai alas) bekas karung beras. Terkadang tempat tidurnya kena kotoran kambing sehingga apabila ingin tidur Mbah Samitun harus membersihkannya dulu.

Mbah Samitun tidak punya lemari seperti yang kita punya, dia hanya pakai karung bekas beras untuk menyimpan pakaiannya.


Bagaimana bisa Mbah Samitun tinggal dirumah sangat sederhana bersama tiga kambingnya?

Saat ditemui, Mbah Samitun sempat bercerita bagaimana kisah hidupnya bertahun-tahun tinggal di di rumah itu bersama tiga kambingnya.

Rumah yang ditinggalinya itu adalah rumah milik orang tuanya. Tiga kambing yang dirawatnya itu sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.

Suaminya telah meninggal puluhan tahun yang lalu, pernikahannya pun juga tidak dikaruniai anak. Tiap hari hanya tiga ekor kambing tersebut yang menemaninya.

Blegon, Keploh dan Gembrot, begitulah Mbah Samitun memanggil kambing peliharaannya itu. Kambing tersebut didapatnya dari seseorang yang menyuruhnya untuk memelihara kambingnya.

Setelah kambing tersebut beranak barulah anaknya diberikan kepada Mbah Samitun.

Mbah Samitun mengaku sangat menyayangi ketiga kambing itu. Bahkan apa yang ia makan juga harus dimakan oleh ketiga kambing itu.

Ketiga kambing itu juga terlihat menuruti perkataan Samitun.

Saat itu, Samitun memanggil Keploh dan Blegon dan hendak memberi mereka makanan berupa singkong rebus.

Setelah beberapa kali namanya disebut, kedua kambing itu langsung lari ke arah Samitun. Samitun pun langsung memberi mereka singkong rebus.

Saat kambing tersebut dirasa menganggu aktivitasnya, biasanya Samitun langsung menegur dan kambing-kambing itu pun akan menyingkir.

“Saya memberi mereka nama supaya lebih mudah memanggilnya. Kalau tidak diberi nama saya kesulitan memanggilnya,” kata dia.

Setiap hari, Samitun memberi makan tiga kambingnya itu sebanyak tiga kali yaitu sarapan, makan siang, dan makan sore.

Untuk itu, setiap hari ia harus mencari rumput di hutan.

sumber

0 komentar

Posting Komentar

close